top of page

lupakan Wianta

8 Juni - 14 Juli 2024

Address:
Gallery R. J. Katamsi
Jl. Parangtritis Km 6,5
Yogyakarta, Indonesia

Dikuratori dan ditulis oleh Wahyudin

“Dalam mengenang tersirat lupa; di dalamnya senantiasa ada proses seleksi”

—Goenawan Mohamad, “Kain Baldwin” (2001)


“Ingat pepatah

yang sempurna ialah rindu

dan rindu yang sempurna ialah lupa”

—Kuntowijoyo, Makrifat Daun Daun Makrifat (1995) 


Pameran ini menampilkan pusparagam lukisan dan gambar karya Made Wianta serta buku, foto, dan video performance art Made Wianta dan tentang Made Wianta sebagai apa yang disebut Ernst van Alphen (2015) “pemanggungan arsip” (staging the archive).   


Di sini, lukisan, gambar, buku, foto, dan video performance art karya Made Wianta dan tentang Made Wianta diusung bukan hanya laiknya “karya seni arsip” (archival artworks), melainkan juga sepantasnya seni berkarya (art work) seorang perupa yang setia dan dustanya bergantung pada keindahan yang tulus dan tahu diri. 


Tentang keindahan yang tulus dan tahu diri, Made Wianta menakrifkannya dalam sajaknya berjudul “2 Juli 1991 Yogya” ini:


Suatu ketika 

Aku akan percaya

Pada sesuatu

Yang aku tidak tahu


Terhadap sesuatu pula

Mengenang sesuatu 

Yang aku tidak tahu


Tanpa merasa lebih

Tanpa merasa hampa

Yang melekat di diriku


Sesuatu yang aku tak tahu

Sesuatu yang aku tahu

Tanpa sesuatu


Bersandar pada “sesuatu yang aku tak tahu” dan “sesuatu yang aku tahu”—saya meneliti ratusan dokumen visual, kliping koran dan majalah, buku, katalog, foto, video, lukisan, dan gambar karya Made Wianta dan tentang Made Wianta di dua studio-rumah Made Wianta di Apuan, Tabanan, dan di Jalan Pandu Denpasar, Bali, selama dua pekan pada Juni 2022, dua hari pada Desember 2023, dan sepekan pada Maret 2024.  


Dari situ, dengan tambahan mewawancarai sejumlah kurator, penulis, perupa, dan kolektor di Ubud dan Denpasar, semua lukisan, gambar, video, foto, dan buku dalam pameran ini terseleksi dan terpilih. 


Dalam proses penelitian, penyeleksian, dan pemilihan itulah saya terkenang hikmat-kebijaksanaan Goenawan Mohamad dan Kuntowijoyo yang terkutip di atas. Dengan itu, judul pameran ini: lupakan Wianta—lahir, yang terbaca atau terdengar, utamanya oleh penghayat filsafat, mirip-mirip judul buku Jean Baudrillard, Forget Foucault (1977).  

        

Atas judul itu, pameran ini menyadari adanya bagian tersembunyi dan tak terengkuh dari perkembangan estetis dan pencapaian artistik karya-karya seni rupa Made Wianta selama hayat di kandung badannya.


Seorang penghayat seni rupa yang peka atau seorang pengamat seni rupa yang saksama bisa memastikan bahwa pameran ini tak menghimpun karya-karya seni rupa Made Wianta dari seluruh periode kekaryaannya yang masyhur—yaitu “Karangasem”, “titik”, “quadrant”, “triangle”, “kaligrafi”, “assembling”, “media campuran”, “instalasi”, dan “performance art”. 


Tapi ia bisa memastikan pula bahwa karya instalasi dan performance art Made Wianta yang absen dalam pameran ini terwakilkan dalam satu-dua video dan sejumlah foto di sini. Sementara itu ia bisa menyaksikan bagian tersembunyi dari daya cipta Made Wianta di pameran ini melalui puluhan gambar dan lukisan keramik. Itu karya-karya Made Wianta yang belum pernah dipamerkan di mana pun. 

      

Di antara yang tersembunyi dan yang tak terengkuh itu, pameran ini menginsafi karya dan daya cipta Made Wianta sebagai dunia belum sudah—dunia yang sudah tercipta oleh pikiran dan perasaan sang perupa, tapi belum selesai diapresiasi dan diresepsi oleh penghayat—setidaknya pemirsa—seni rupa; kebelumselesaian yang memungkinkan pemirsa mengalami sejumlah petualangan intelektual dan emosional tak tepermanai. 


Dengan begitu, dengan kebelumsudahan atau kebelumselesaian itu, pameran ini merupakan ikhtiar sederhana untuk menebalkan lupa sebagai rindu yang sempurna kepada Made Wianta sehingga ia tetap pantas dicatat dan dapat tempat di dunia seni rupa Indonesia, kalau bukan di ruang sempit sejarah seni rupa Tanah Air, yang suka lekas menghapus nama dan karya perupa Indonesia dari catatan, rekaman, ingatan, atau kenangan setelah mereka berkalang tanah. 


Bagi saya sendiri, setelah pameran ini tergelar, mengambil-ubah kata-kata sastrawan Kolombia Juan Gabriel Vasques—melupakan Made Wianta adalah perbuatan mustahil.


Yogyakarta, 7 Juni 2024

Artworks

Didukung oleh

Artworks

bottom of page